Kumpulan cerita fiksi dari Kota Tangerang: 1. Legenda Banjir Sungai Cisadane Legenda ini mengisahkan tentang dua ekor ular penunggu Sungai Cisadane yang selalu ingin lebih unggul meski keduanya adalah kakak adik.

Si Ayub dari Teluk Naga Jero adalah jagoan betawi yang sedang ngamuk hingga membuat seisi kampung dibuat kalang kabut. Akhirnya Jero dilaporkan kepada meneer Marsose untuk menangkap Jero.

Teluknaga berasal dari kata Teluk dan naga (yang merupakan kependekan dari perahu naga), di namakan Teluknaga karena Teluknaga merupakan pintu masuk para pendatang asal Tiongkok Cina, yang datang ke nusantara untuk berdagang.

Teluknaga berasal dari kata Teluk dan Naga (yang merupakan kependekan dari perahu naga). Dinamakan Teluknaga karena wilayah pesisir pantai laut utara di Kabupaten Tangerang ini merupakan pintu masuk para pendatang asal Tiongkok Cina, yang datang ke nusantara untuk berdagang.

Si Ayub dari Teluk Naga. Jero adalah jagoan betawi yang sedang ngamuk hingga membuat seisi kampung dibuat kalang kabut. Akhirnya Jero dilaporkan kepada meneer Marsose untuk menangkap Jero.

Tempat Pelelangan Ikan Tanjung Pasir ini terletak di Desa Tanjung Pasir, Teluk Naga, Tangerang sekitar 5 kilometer dari Bandara Soekarno Hatta Tangerang. Jika Anda berwisata ke Tanjung Pasir, Anda dapat menyewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Untung Jawa dengan biaya Rp. 20.000,- per orang.

Dalam sejarah perlawanan petani Tangerang pada 10 Februari 1924, gerakan perlawanan ini dipimpin tokoh kharismarik,Ki Dalang Kaiin atau Kalin atau Jiah bin Bayah di kampung Pangkalan, Teluk Naga, Tangerang.