Jawaban : Yang tepat kisah fiksi itu diperankan oleh tokoh-tokoh fiktif dalam rangkaian peristiwa yang juga fiktif hukumnya boleh jika penulis cerita fiksi bermaksud untuk menyampaikan dan memahamkan kepada pembaca pesan-pesan yang sejalan dengan syariat.

Jawaban : Yang tepat kisah fiksi itu diperankan oleh tokoh-tokoh fiktif dalam rangkaian peristiwa yang juga fiktif hukumnya boleh jika penulis cerita fiksi bermaksud untuk menyampaikan dan memahamkan kepada pembaca pesan-pesan yang sejalan dengan syariat.

Kedua, kandungan (content) cerita fiksi tidak boleh bertentangan dengan akidah atau syariah Islam. Misalnya berisi ajakan beramar makruf nahi mungkar, berbakti kepada orang tua, bersikap jujur, mendorong berani berjihad di jalan Allah, mendorong berani melawan penguasa yang zalim, dan sebagainya.

Hukum Membuat Cerita Fiksi Dalam Pandangan Islam Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kisah fiksi adalah kisah khayalan alias bukan kisah sebenarnya. Membaca dan menulis kisah semacam itu justru membuang-buang waktu.

Sedang dalam sebuah kisah fiksi mengapa disebut dusta, karena hal tersebut bukan perumpamaan yang dimaksud seperti di dalam al qur’an , cerita fiksi merupakan sebuah KISAH yang shahih dan BUKAN kisah perumpaan yang dimaksud dalam Al Qur’an, dan sebuah kisah hendaklah tidak disampaikan dengan cerita dusta,

Pertanyaan, “Apakah di dalam Islam diperbolehkan menulis buku cerita fiksi atau cerita fiksi dinilai sebagai bagian dari dusta?” الفتوى الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد: