Masalah hukum menulis dan membaca cerita fiksi telah menjadi ajang perdebatan yang hingga saat ini belum selesai. Ada dua pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa haram hukumnya menulis dan membaca cerita fiksi. Hal ini didasarkan pada fatwa masyaikh (Para Ulama) ketika ditanya tentang hukum menulis dan membaca cerita fiksi.

Beberapa karya fiksi sedikit atau sangat digambarkan ulang berdasarkan pada beberapa kisah asli yang sebenarnya, atau sebuah biografi yang direkonstruksi. Seringkali, bahkan ketika cerita fiksi didasarkan pada fakta, mungkin terdapat penambahan dan pengurangan dari kisah nyata untuk membuatnya lebih menarik.

Misalnya, dalam pernyataan “peristiwa cerita kancil nyolong timun adalah fiktif belaka” artinya peristiwa kancil nyolong timun yang lolos dari jebakan pak tani itu adalah khayalan belaka. Misalnya lagi, “cerita kancil nyolong timun merupakan cerita fiksi” artinya cerita tesebut adalah cerita khayalan.

Kedua, kandungan (content) cerita fiksi tidak boleh bertentangan dengan akidah atau syariah Islam. Misalnya berisi ajakan beramar makruf nahi mungkar, berbakti kepada orang tua, bersikap jujur, mendorong berani berjihad di jalan Allah, mendorong berani melawan penguasa yang zalim, dan sebagainya.

Jawaban : Yang tepat kisah fiksi itu diperankan oleh tokoh-tokoh fiktif dalam rangkaian peristiwa yang juga fiktif hukumnya boleh jika penulis cerita fiksi bermaksud untuk menyampaikan dan memahamkan kepada pembaca pesan-pesan yang sejalan dengan syariat.

Cerita ini adalah versil lain dari lutung kasarung yang banyak didengar di daerah Sunda. Cerita Lutung Kasarung ini merupakan cerita versi Pasir Luhur. Tidaklah penting mana yang benar antara kedua versi tersebut, yang jelas, ceritacerita ini untuk menghibur dan dipetik pelajarannya.

Pengertian Cerita Fiksi, Struktur dan Unsur Cerita Fiksi – Kalian mungkin sudah pernah membaca karya sastra seperti karangan, fiksi atau fantasi. Dengan membaca cerita fiksi bisa mengembangkan kemampuan imajinasi seseorang.